Dhemit Karya Heru Kusawa Mukti
Aktualisaasi karya sastra dalam bentuk drama ini yang sedang di garap oleh teater limbuk memberikan suatu nilai refleksi terhadap realitas kondisi sosial masyarakat kita pada saat ini. Dengan kemasan yang penuh komedi mencoba memberikan hiburan namun juga nilai-nilai moril bagi penonton.
Dimana Tokoh dhemit(wewe kantong, wewe gombel, tuyul pekok, gendruwo, kuntilanak merupakan cerminan masyarakat bawah yang tergusur karena proyek kerakusan manusia…bahkan peradaban budaya yang mereka bangun secara turun temurun ikut tergilas oleh laju proyek-proyek pembangunan. Sedangkan tokoh jin kuning adalah simbol kekuatan pengayom yang sangat diharapkan oleh para dhemit tidak bisa memberikan perlindungan terhadap kelangsungan hidup mereka, dan bahkan ikut hancur oleh kerakusan-kerakusan manusia tersebut.
Hancur sudah…
Musnah telah….
Hancur sudah…
Musnah telah…
Hilang arah….
Hilang tanah….
Hilang rasa sesama….
Salam Arif, ANgges, Irma, Siska, boncel, Fitri, Bagus, Wahid, Harno, Billi, bayu, Catur, Anshori, Dwi pratiwi, Bayu, Angga, Galih dan teman-teman yang tidak bisa kami sebutkan semua disini.. Mungkin kalian hanya sang penghibur he…he…he…. Tapi jangan khawatir, Tuhan maha pemurah…maha pemberi berkah Salut dan hormat kubuka topi lebar-lebar kepada anak-anak limbuk. kreatifitas dan semangat kalian telah memberi pernik di SMK kita tercinta ini. Anak-anak pencari jati diri….terus berproses…menangkan kehidupan ini dengan imajinasi dan kreatifitas kalian



Hidoep Kreatifitas dan imajinasi.
Tep semangat “Teater GRISA”